Tulisan ini tercipta sebagai hasil berfikir atas sebuah pertanyaan yang dilontarkan dari salah seorang pemateri ketika membahas terkait revolusi industri 5.0 dalam kegiatan MIM (Madrasah Intelektual Muhammadiyah) yang diadakan PC IMM AR Fakhruddin. “Apakah organisasi masih relevan untuk 10 – 15 tahun yang akan datang?”, tanya beliau. Hal tersebut memicu tanya dalam fikiran, “Apakah dengan teknologi yang kian berkembang pesat ini, organisasi yang ada saat ini masih akan relevan?”
Pada dasarnya, manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Manusia akan senantiasa membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Sejak manusia dilahirkan hingga sampai waktunya manusia kembali keharibaan Tuhan, manusia akan selalu membutuhkan orang lain. Bahkan mereka yang memilih untuk menjadi sosok individualis dan anti sosial pun akan tetap membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Berbicara mengenai manusia, maka akan erat kaitannya dengan interaksi sosial. Manusia adalah pelaku utama interaksi sosial. Segala pemenuhan kebutuhan manusia akan terpenuhi ketika manusia melakukan interaksi sosial. Menurut Aristoteles (384-322 sebelum masehi) dalam Salam (2002, hlm. 41) manusia merupakan zoon politicon yaitu makhluk sosial artinya manusia senantiasa berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain, manusia tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain dan interaksi sosial membentuk kehidupan berkelompok pada manusia. Oleh karenanya, manusia memiliki kecenderungan untuk berkumpul dan membentuk sebuah kelompok bernama organisasi.
Secara umum, sebuah organisasi terbentuk karena adanya sekumpulan individu yang memiliki kesamaan tujuan atau visi. Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri (James L. Gibson, 1986). Mudahnya, dipahami sebagai usaha untuk mencapai suatu tujuan secara bersama – sama. Namanya organisasi yang notabene adalah perkumpulan; himpunan, maka bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang adalah hal yang lumrah dan tidak bisa dihindari
Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman yang senantiasa mengalami perubahan, proses interaksi sosial antar manusia tidak luput pula dari perubahan. Berkembangnya dunia digital yang darinya lahir berbagai aplikasi seperti whatsapp, instagram, facebook, dsb. tentu turut memengaruhi proses interaksi sosial. Jika dahulu proses interaksi sosial manusia cenderung terbatas, seiring berkembangannya zaman proses interaksi sosial seolah tidak ada batasnya baik dari segi ruang dan waktu.
Semua hal yang tercipta pasti memiliki dua sisi yaitu positif dan negatif. Positifnya adalah dengan kemajuan teknologi dan hadirnya berbagai macam aplikasi sebagai media komunikasi akan jelas mempermudah individu untuk saling terhubung satu sama lain. Kemudian dengan berkembangnya teknolongi ini, ruang – ruang diskusi organisasi atau mahasiswa pun lebih fleksibel. Disisi lain, dampak negatif yang ditimbulkan adalah fenomena yang terjadi sebagai imbas dari kemajuan teknologi tersebut pada akhirnya membawa manusia menjadi makhluk yang cenderung individualis; enggan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar karena merasa dunia maya lebih menarik daripada dunia nyata. Padahal manusia hakikatnya hidup di dunia nyata, dunia yang benar – benar berinteraksi sosial secara riil dengan manusia lain. Kemajuan teknologi yang terjadi juga menimbulkan fenomena lain yaitu menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Banyak sekali ditemui orang – orang berkumpul secara fisik; dekat secara fisik namun mereka malah asyik dengan gawainya masing – masing.
Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang membangunnya. Menurut Hidajat (2009) jiwa manusia pada dasarnya mempunyai tiga aspek penting dan berbeda, yaitu akal, rasa, dan emosi. Memilih untuk terjun dalam dunia organisasi maka harus siap menghadapi segala dinamika dan problematika yang muncul di dalamnya. Maka dari itu, disanalah letak terjadinya proses olahnalar dan olahrasa. Olahnalar dipahami sebagai suatu proses yang mengakibatkan daya nalar mahasiswa senantiasa diasah, diolah, dan dibentuk sedemikian rupa agar kapasitas nalar kritis terus berkembang. Sedangkan olahrasa dimaknai sebagai suatu proses pembentukan dan pembelajaran terkait hubungan sosial antar mahasiswa; antar anggota organisasi. Bagaimana memahami, menumbuhkan empati, menurunkan rasa egois, serta menciptakan tenggang rasa antar mahasiswa.
Dapat dipahami bahwasannya daya nalar kritis tidak hanya diperoleh melalui kegiatan akademik semata. Nalar kritis tidak hanya diperoleh dari proses belajar mengajar di dalam kelas akan tetapi nalar kritis sangat bisa diperoleh dalam kegiatan berorganisasi. Bagaimana mahasiswa dapat “melek” akan kondisi internal organisasi atau membaca kondisi di eksternal organisasi, bagaimana mahasiswa dapat membaca isu – isu sosial yang terjadi dalam masyarakat, bagaimana mahasiswa peka terhadap kondisi yang ada baik di lingkungan internal kampus maupun eksternal kampus, bagaimana mahasiswa selaku orang berpendidikan harus mendahulukan akal pikiran sebelum berucap, dsb. Dapat dipahami pula bahwa dalam suatu organisasi terdapat berbagai macam karakter manusia. Disini, mahasiswa dapat belajar bahwa dunia ini tidak serta merta harus sesuai dengan apa yang diinginkan. Tidak bisa memaksakan kehendak pribadi dalam organisasi. Segala hal harus dikomunikasikan dengan baik. Dalam hal ini juga dapat dipahami bahwa bertemu dengan hal – hal yang kontra adalah hal yang lumrah. Diluar sana, akan semakin banyak ditemui individu – individu yang kontra dan tidak sefrekuensi. Oleh karenanya, tidak hanya sekedar olahnalar akan tetapi olahrasa yang pun menjadi bagian dalam proses dinamika organisasi.
Jika membahas terkait relevansi organisasi 10 – 15 tahun kedepan, maka dapat dikatakan bahwa organisasi masih relevan. Selain hakikat manusia sendiri selaku makhluk sosial yang mempunyai kecenderungan untuk berhimpun, mahasiswa membutuhkan organisasi sebagai media untuk olahnalar dan olahrasa sebelum menghadapi dunia yang sesungguhnya ketika telah lulus dari dunia mahasiswa. Kemajuan teknologi yang ada dan senantiasa berkembang ini dapat dijadikan sebagai alat bantu dan fasilitas pendukung agar mempermudah komunikasi satu sama lain. Dalam hal ini pula, mahasiswa dituntut mampu adaptif, progresif, inovatif, serta kreatif dalam menyikapi segala perubahan zaman.
Referensi BAB I Pendahuluan. Diakses pada 31 Agustus 2021, dari http://repository.upi.edu/17607/5/T_GEO_1302434_Chapter1.pdf Budio, S. 2018. Komunikasi Organisasi: Konsep Dasar Organisasi. [Online], Vol. 1, No. 2, hlm. 23-30. Diakses 25 September 2021. URL : https://jurnal.stai-yaptip.ac.id/index.php/menata/article/download/69/108/236 Wahyudi AV, Gunawan I. 2020. Olah Tubuh Dan Olah Rasa Dalam Pembelajaran Seni Tari Terhadap Pengembangan Karakter. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni. [Online], Vol. 5, No. 2, hlm. 96-110. Diakses 25 September 2021. URL https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/JPKS/article/view/8610 BAB I Pendahuluan. Diakses pada 31 Agustus 2021, dari http://repository.upi.edu/17607/5/T_GEO_1302434_Chapter1.pdf Budio, S. 2018. Komunikasi Organisasi: Konsep Dasar Organisasi. [Online], Vol. 1, No. 2, hlm. 23-30. Diakses 25 September 2021. URL : https://jurnal.stai-yaptip.ac.id/index.php/menata/article/download/69/108/236 Wahyudi AV, Gunawan I. 2020. Olah Tubuh Dan Olah Rasa Dalam Pembelajaran Seni Tari Terhadap Pengembangan Karakter. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni. [Online], Vol. 5, No. 2, hlm. 96-110. Diakses 25 September 2021. URL https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/JPKS/article/view/8610
Komentar Terbaru