Ambisi dan Obsesi
Ambisi dan emosi, merupakan 2 kata yang berbeda artinya tetapi banyak yang salah kaprah akan pengertianya. Keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan, merupakan definisi ambisi menurut The Webster’s Dictionary. Sedangkan definisi obsesi sendiri adalah pikiran, bayangan, ide atau emosi yang tidak terkendali, sering datang tanpa dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas.
Banyak orang yang berkata bahwa tidak baik menjadi orang yang ambisi apalagi orang yang mempunyai obsesi sangat besar. Menurut saya pendapat tersebut tidak bisa disalahkan karena semua masukan, pendapat dan kritikan adalah presepsi atau pandangan masing masing dan hal ini tidak bisa di salahkan. Banyak orang Ketika ingin meraih ambisi sering sekali memaksakan diri, Alhasil ketika sukses tidak dicapai maka akan sangat kecewa.
Meskipun pengertianya adalah sama-sama keinginan, ide, pikiran, bayangan, atau emosi dari produk pikiran, namun memiliki perbedaan yang bertentangan, yaitu: ambisi lebih bersifat positif, sedangkan obsesi lebih mengarah ke sifat negatif yang tidak sehat dan sebaiknya di hindari. Orang sering salah menafsirkan ambisi dengan hal yang negatif atau lebih sering digunakan dalam menggambarkan keserakahan seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk mengejar ketenaran, kekuasaan atau pencapaian usaha tertentu. Jika seseorang telah memiliki keinginan atau punya rencana, kemudian memfokuskan energi dan pikiran untuk mewujudkan keinginan tersebut, berarti memiliki sebuah ambisi. Akan tetapi, jika keinginan itu sudah sangat mendominasi pikiran tanpa terkendali, tanpa alasan, serta mengejar secara membabi buta dengan emosi meluap, berarti orang tersebut sudah memiliki obsesi.
Jika ada orang yang memiliki ambisi akan tetapi bisa mengakibatkan rasa tertekan dan cemas, itu disebut obsesi. Orang-orang yang memiliki ambisi, ketika mereka tidak mendapatkan tujuan dari satu keinginan, mereka akan berusaha mendapatkan tujuan itu dengan cara yang lain atau membuat tujuan lain yang lain. Berbeda dengan orang-orang yang terobsesi, jika tidak bisa sampai ke tujuan yang telah mereka tetapkan, kecenderungan untuk depresi akan lebih besar. Dengan demikian, orang harus memiliki ambisi tanpa harus menggunakan obsesi (menjadi obsesif) agar tidak memperlihatkan sisi gelap psikopat yang ada di dalam diri nya.
Kenikmatan, ketentraman, kehangatan, ketenaran, kekuasaan, dan keberhasilan merupakan faktor yang memunculkan suatu ambisi, bahkan faktor yang paling sering terbentuknya ambisi karena ada dorongan dari exsternal yaitu keluarga. Seangkan obsesi sendiri terbentuk dari dari keinginan yang harus tercapai, apabila tidak maka dapat menimbulkan rasa kecewa yang bisa mempengaruhi kehidupan orang yang terobsesi tersebut bahkan bisa mengganggu kehidupan orang lain. Dampak buruk dari obsesi secara berlebihan dinamakan obsessive compulsive disorder (OCD). Gangguan OCD masih dapat disembuhkan dengan cepat namun tetap membutuhkan berbagai proses penanganan yang hampir sama dengan orang yang mengalami depresi.
Semua orang pasti mempunyai suatu keinginan yang harus dia capai, misalnya lulus kuliah dengan tepat waktu ataupun setelah kuliah memiliki pekerjaan yang tetap. Apakah itu termasuk ambisi? Silahkan jawab sendiri!
Ria Resti Amalia
Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
PK Rosyad Sholeh 2020
CEK Ombak Ala PDIP
PDIP seringkali dijadikan bahan perbincangan karena setiap keputusan yang diambil selalu memberikan dampak bukan hanya internal partai namun eksternal partai. Hal ini tak lepas dari sosok Megawati yang menjadi sosok paling sentral di PDIP, dan tak dipungkiri langkahnya selalu menjadi barometer untuk partai lain, akankah berkoalisi atau beroposisi dengan PDIP karena elektabilitas partainya yang selalu berada di puncak.
Akhir-akhir ini internal PDIP sedang panas bukan karena kadernya yang korupsi, melainkan 2 “kader terbaiknya” perang dingin dan saling lempar asumsi, siapa lagi kalau bukan Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Ganjar dengan elektabilitas capres tertinggi sepertinya kurang disukai oleh Puan yang tak lain adalah putri mahkota Megawati yang menjadi barang tentu sikap politiknya selalu didengar oleh kadernya. Sikap Ganjar yang hening dan enggan memberikan statement justru terlihat elegan, Ganjar tampak tangguh dengan semua statement Puan yang menyudutkan dirinya. Bahkan yang lebih menyakitkan, saat Puan datang ke Jateng untuk memberi pengarahan kepada kadernya justru tak nampak sosok Ganjar yang jelas sebagai tuan rumah.
Kontradiksi di suatu internal partai memang hal yang lumrah, bukan tanpa tujuan, bisa jadi apa yang elite partai lakukan semata hanya untuk menelisik situasi arus bawah yang notabene basis pendukung mereka, yaitu kandang banteng (jateng). Bisa jadi elite partai haha hihi setelah melihat arah dukungan kader dan masyarakatnya untuk siapa, dan elite partai bergegas membentuk strategi dan menancapkan gas guna kemenangan di legislatif maupun eksekutif kembali. Jauh sebelum 2024 dimulai nampaknya hampir semua partai menyiapkan dan memantaskan diri untuk berkontestasi, kendati demikian seharusnya elite partai serius dalam pengambilan keputusan yang menguntungkan rakyat, bukan hanya mementingkan elite politik saja, karena sejatinya elite politik tak akan menjadi elite jika rakyat tak memberikan suaranya.
Cek ombak seperti inilah yang sebenarnya merugikan masyarakat, karena masyarakat sendiri dibuat gaduh dengan sikap elita yang melemparkan bola panas ditengah kesejukan. Sepertinya masih ada cara lain yang cukup dewasa untuk menguji kelayakan calon, kita lihat saja kinerja masing-masing individu, Puan Maharani dengan tampuk kursi Ketua DPRnya dan Ganjar Pranowo dengan Kursi Gubernurnya.
Muhammad Hakam Biqy
Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
PK Rosyad Sholeh 2020
Esensi Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah istilah bahasa Indonesia untuk menunjukkan intelegensi. Dalam istilah psikologi dikenal dengan sebutan Intelegensi Question (IQ). Sebagian ahli psikologi menyatakan bahwa keberhasilan dan kegagalan individu di masa depan ditentukan oleh faktor ini. Namun, umumnya orang berasumsi bahwa kecerdasan intelektual sebagai penentu keberhasilan pada masa depan. Dari uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya peran kecerdasan intelektual dalam kesuksesan proses pembelajaran. Di zaman serba modern ini tentu saja harus diimbangi dengan perkembangan kualitas intelektual yang mumpuni dalam diri setiap manusia. Karena jika tidak diimbangi, maka untuk mencapai perkembangan zaman menuju ke arah yang lebih baik dari yang baik juga akan lama serta lambat. Ada beberapa faktor yang begitu mempengaruhi perkembangan intelektualitas, diantaranya adalah pendidikan, minat membaca dan menulis, motivasi, lingkungan serta tingkat emosi.
Pengertian pendidikan dalam faktor perkembangan intelektual yaitu jika seorang manusia mempunyai pengalaman pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi maka tidak menutup kemungkinan bahwa orang tersebut akan mempunyai pandangan yang luas, pengalaman berfikir kritis yang kebih kongkrit, mendapatkan banyak sudut pandang baru dari setiap proses pendidikannya. Faktor yang kedua yaitu minat membaca dan menulis. Diawali dengan membaca bacaan yang dapat menambah asumsi tentang intelektualitas maupun perkembangan pemikiran, bisa dalam bidang-bidang bacaan tertentu, misalnya tentang keagamaan, sosial, ekonomi dan masih banyak lagi. Sebenarnya membaca semua genre buku bukanlah hal yang tidak mungkin, karena pada setiap tulisan buku yang dibaca akan menghasilkan beberapa pengetauhan-pengetauhan baru yang sebelumnya asing bagi kita, kadangkala kita juga bisa dapat mengambil pelajaran maupun hikmah dari tulisan buku tersebut, yang tentunya dapat membuat kita menjalani kehidupan yang lebih baik lagi kedepannya. Setelah membaca, lanjut pada bagian menulis. Dengan menulis kita dapat mengembangkan intelektualitas kita karena otak kita terpancing untuk memunculkan gagasan-gagasan baru, gagasan unik, yang nantinya juga akan mempengaruhi kehidupan kita.
Motivasi juga menjadi salah satu faktor berkembangnya intelektualitas seseorang. Orang yang mendapatkan motivasi pasti fikirannya akan lebih siap untuk berfikir kearah yang lebih positif, dan hal ini juga berpengaruh untuk peningkatan intelektual. Selanjutnya adalah lingkungan, jika kita dikelilingi oleh lingkungan yang baik, yang mempunyai niat untuk terus belajar banyak hal, tidak mudah berputus asa dan selalu optimis dalam hal-hal baik maka pelan-pelan diri kamu pun juga akan terpengaruh untuk bertindak seperti itu. Yang terakhir adalah tingkat emosi, sebagai manusia yang dianugrahi rasa emosi, maka kita harus sebisa mungkin untuk mengendalikan, mengontrol emosi diri kita masing-masing, serta berupaya untuk menstabilkan emosi. Kenapa tingkat emosi berpengaruh pada perkembangan intelektualitas? Karena emosi mempengaruhi tindakan ataupun kepribadian diri kita, kepribadian seseorang juga akan mempengaruhi cara dia berfikir.
Dari beberapa faktor yang sudah disebutkan diatas itu saling berkaitan dan melengkapi untuk menuju kemajuan intelektualitas yang lebih bersinar dan sebagai salah satu cara untuk memerdekakan fikiran dari setiap pemikiran pada diri manusia. Maka sudah seharusnya sebagai anak muda, terlebih menjadi mahasiswa kita harus meninggikan kesadaran untuk berintelektualitas. Banyak yang bilang bahwa mahasiswa adalah agen of change untuk memunculkan gagasan maupun tindakan yang kreatif, inovatif, serta rasional, terkhusus dari bekal intelektulitas yang kita bawa tentunya harus melek terhadap urgensi yang ada pada bangsa kita, dan diharapkan memunculkan solusi yang solutif.
Melania Novitasari
Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
PK Rosyad Sholeh 2019
SUMBER
AR, N. Syahrizal. 2016. HUBUNGAN KECERDASAN INTELEKTUAL DENGAN
PRESTASI BELAJAR SANTRI DAYAH TERPADU ALMADINATUDDINIYAH SYAMSUDDHUHA COT MURONG ACEH UTARA. 14 (2):209.
Rivaie, W. 2011. FAKTOR INTELEKTUAL YANG MENENTUKAN KEPRIBADIAN. Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora. 2 (1).
Komentar Terbaru