Taukah kamu ternyata masih ada lho wilayah Indonesia yang menggunakan sistem kerajaan dalam otonomi daerahnya? Jika kamu belum tahu, salah satu daerahnya ialah Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY merupakan salah satu provinsi yang terletak di Pulau Jawa. Dalam sistem pemerintahan, Provinsi DIY dipimpin oleh seorang sultan yang bernama Sri Sultan Hamengku Buwono. Pergiliran kekuasaan di provinsi ini dilakukan secara turun temurun hingga saat ini. Saat ini Provinsi DIY dipimpin oleh seorang gubernur yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sebutan tersebut merupakan bagian dari warisan budaya Yogyakarta. Oleh karena itu, Yogyakarta dijuluki budaya.
Tidak hanya kota budaya, Yogyakarta juga masih memiliki berbagai julukan Diantaranya kota pelajar, kota wisata, dsb. Disebut kota pelajar karena Yogyakarta memiliki banyak perguruan tinggi dan disebut dengan kota wisata karena memiliki beragam destinasi wisata yang dapat dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Destinasi wisata di Kota Yogyakarta pun beragam mulai dari wisata alam sampai wisata budaya, seperti wisata pantai, wisata gunung, wisata candi, dan terdapat banyak lagi tempat wisata serta beragam keunikan yang dapat memanjakan mata para wisatawan. Salah satu destinasi wisata yang sangat terkenal dan iconic di Kota Yogyakarta ialah Malioboro.
Malioboro merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat di ’gencar-gencar’ oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Ketika berkunjung ke Malioboro, para wisatawan akan mendapatkan banyak jajanan serta ‘buah tangan’ khas Yogyakarta yang dapat dibeli dengan harga yang ramah di kantong. Malioboro berasal dari nama anggota kolonial Inggris yang dahulu pernah menduduki Yogyakarta pada tahun 1811-1816 M yang bernama Marlborough Kolonial Hindia Belanda membangun Malioboro di pusat Kota Yogyakarta pada abad ke-19 sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian.
Dilansir dari Harianjogja.com, Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) Malioboro, Ekwanto menjelaskan terdapat sekitar 5000 wisatawan yang berkunjung ke Malioboro sebelum adanya pandemi COVID-19. Namun, karena adanya wabah pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama kurang lebih dua tahun lamanya, Malioboro sempat ditutup dan dibatasi oleh para wisatawan karena adanya kebijakan pemerintah pusat yang mengharuskan untuk
melakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) . Hal ini membuat para pedagang kaki lima (PKL) dan beberapa pelaku usaha di Malioboro mengalami kerugian yang cukup besar. Sehingga tidak sedikit toko yang memberhentikan peng-operasian-nya karena tidak adanya pemasukan dari para pelanggan.
Dilansir dari Harianjogja.com, menurut Koordinator Paguyuban Pengusaha Malioboro dan Ahmad Yani (PPMAY), KRT Karyanto Purbohusodo, 220 toko yang tutup selama tiga pekan rugi sekitar Rp100 miliar. Selain itu, terdapat sekitar 9.850 pegawai toko di Malioboro menerima gaji sebesar 25 persen. Salah satu pedagang kaki lima (PKL) Malioboro yang merasakan dampak dari adanya pandemi COVID-19 ini ialah Bapak Suparmin. Bapak Suparmin berasal dari Surabaya sebelum pindah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta Bapak Suparmin tinggal bersama istrinya di daerah Wonosari. Bapak Suparmin mengatakan bahwa baru 2 bulan di Yogyakarta dan memulai penjualannya. Sebelumnya di Surabaya, Bapak Suparmin adalah seorang penjual kerupuk yang cukup lancar dan laris sebelum pandemi Covid-19. Saat di Indonesia terjadi pandemi Covid-19 membuat pendapatan dari Bapak Suparmin menurun sehingga penjualan menjadi tidak lancar. Oleh sebab itu, Bapak Suparmin pindah ke Yogyakarta dengan harapan bisa membuka peluang yang baru. Di Yogyakarta, Bapak Suparmin memulai usaha baru dengan menjual beraneka kerajinan untuk mainan anak
Rata-rata kerajinan Bapak Suparmin ini terbuat dari kayu yang kemudian dibentuk beraneka ragam dan diberi warna. Selain usaha tersebut, Bapak Suparmin tidak memiliki usaha lain. Bapak Suparmin memilih Malioboro sebagai tempat untuk berjualan mainan kerajinannya tersebut. Menurut Bapak Suparmin, ia memilih Malioboro karena kawasan tersebut banyak wisatawan yang datang baik dari pagi hingga malam hari. Pendapatan yang diterima Bapak Suparmin dari hasil penjualan, menurutnya cenderung tidak stabil karena diperkirakan akibat dari dampak pandemi dan relokasi yang sedang terjadi di Jalan Malioboro saat ini.
Semoga dari apa yang dialami oleh Bapak Suparmin diatas dapat menjadi renungan bagi kita semua dan semoga pandemi ini cepat usai sehingga siapapun itu termasuk Bapak Suparmin dan sekeluarga dapat kembali berdagang dengan lancar. Aaamiin.
Oleh : Ahmad Mushawwir
Editor: Khusnia
Mantap 👍😁